wertfootup — Barongsai, dengan gerakan akrobatiknya yang lincah dan penuh tenaga di atas tiang-tiang tinggi, telah lama menjadi ikon tak terpisahkan dari perayaan Imlek. Dentuman genderang yang menggema mengiringi liukan sang singa mitologis, memukau setiap mata yang menyaksikannya. Berakar dari Tiongkok, Barongsai telah berkembang jauh melampaui sekadar ekspresi seni dan budaya. Ia merupakan perwujudan spiritual dan penjelmaan tokoh-tokoh legenda dalam kisah klasik seperti Sam Kok.
Kini, warisan budaya ini tidak hanya bertahan, tetapi telah bertransformasi. Barongsai telah menjelma menjadi sebuah seni pertunjukan modern dan cabang olahraga yang inklusif, merangkul siapa pun tanpa memandang latar belakang etnis atau keyakinan. Asosiasinya yang kerap eksklusif dengan budaya Tionghoa pun perlahan bergeser, membuka ruang perjumpaan bagi berbagai kalangan.
Wadah Toleransi di Balik Kostum Singa
Transformasi ini nyata terlihat di tempat-tempat seperti Sasana Liong & Barongsai Kung Chiao dan Wushu Genta Suci. Di sini, Barongsai tidak hanya diajarkan sebagai kesenian, tetapi juga dikembangkan sebagai cabang olahraga sekaligus wadah praktik toleransi. Berbagai etnis dan agama berkumpul, belajar, dan berlatih bersama.
Firly, seorang pemain barongsai perempuan berusia 25 tahun, merasakan langsung perubahan wajah Barongsai ini. Sudah lebih dari 13 tahun ia bergabung di sasana tersebut, dan meski berasal dari latar belakang non-Tionghoa, ia tak pernah merasa menjadi “orang luar”.
“Saat ini Barongsai sudah menjadi cabang olahraga dan peminatnya pun bukan hanya dari kalangan Tionghoa saja,” ujar Firly. Baginya, Barongsai adalah ruang belajar tentang disiplin, kerja sama tim, dan yang terpenting, penghormatan terhadap perbedaan. Setiap latihan dan penampilan di event besar membentuk perspektifnya tentang seni dan indahnya keberagaman.
Perjalanan dari Ekstrakurikuler ke Panggung Kompetisi
Ketertarikan Firly pada Barongsai berawal dari bangku sekolah di sebuah yayasan pendidikan Tionghoa, yang menawarkan ekstrakurikuler ini. Rasa penasaran pada kesenian yang unik dan menarik membawanya masuk ke dalam dunia liukan singa tersebut. Keputusannya didukung penuh oleh keluarga dan lingkungannya, terutama setelah Barongsai diakui secara resmi sebagai cabang olahraga oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Namun, di balik gemerlap pertunjukan, ada risiko yang harus dihadapi. Cedera dan momen-momen menegangkan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan seorang pemain Barongsai. Namun bagi Firly, semua itu terbayar lunas ketika ia mendapat kesempatan untuk tampil di panggung-panggung besar dan bahkan berlaga dalam kompetisi.
Disiplin Tanpa Ritual Khusus
Menepis anggapan umum, Firly menegaskan bahwa dalam konteks olahraga dan pertunjukan, tidak ada ritual khusus yang wajib dilakukan sebelum menari Barongsai. Persiapan lebih difokuskan pada hal-hal teknis dan fisik.
“Tidak ada ritual khusus dalam pertunjukan. Sudah pasti berdoa menurut keyakinan masing-masing, pemanasan, dan mengecek alat peraga,” jelasnya. Meski begitu, kedisiplinan tetap dijunjung tinggi, dengan pantangan seperti tidak merokok sebagai bagian dari komitmen menjaga kondisi fisik.
Filosofi Merak dan Ajaran Luhur
Nilai toleransi menjadi fondasi utama di Sasana Kung Chiao Genta Suci. Perbedaan keyakinan bukan dijadikan tembok pemisah, melainkan dirawat dalam semangat kebersamaan. Herry, Ketua Sasana, menegaskan bahwa stigma Barongsai sebagai kesenian eksklusif etnis Tionghoa sudah tidak relevan lagi.
“Pada saat sekarang ini para pemain Barongsai bukan saja dari kalangan Tionghoa, tapi sudah membaur, anggotanya dari berbagai etnis dan agama,” ujarnya.
Menjelang perayaan seperti Imlek, persiapan lebih difokuskan pada kreativitas pertunjukan untuk menghibur penonton. Herry juga menekankan bahwa tidak ada ritual wajib dalam pertunjukan atau pertandingan. Namun, sasana tetap menghormati konteks ritual keagamaan tertentu jika ada pemain yang ingin melaksanakannya secara pribadi.
Lebih dari sekadar mengejar prestasi teknik dan kemenangan, Herry menyatakan bahwa sasana mereka menanamkan filosofi mendalam kepada setiap murid: “Raihlah prestasi setinggi dan seindah burung merak, namun jangan pernah melupakan ajaran luhur.”
Melalui perjalanan para pemain seperti Firly dan panduan dari para pelatih seperti Herry, Barongsai membuktikan dirinya bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah simbol dinamis yang terus berevolusi, menjadi jembatan penghubung, wadah inklusivitas, dan cermin indahnya persatuan dalam keberagaman.
